Integrasi Kurikulum Madrasah Diniyah dengan Lembaga Formal dalam Meningkatkan Mutu Lulusan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Nurul Jadid Paiton Probolinggo

DOI: https://doi.org/10.33650/trilogi.v2i2.2291

Authors (s)


(1) * Abdurrahman Abdurrahman   (Universitas Nurul Jadid, Probolinggo)  
        Indonesia
(2)  Ika Fitri Anwar   (Universitas Nurul Jadid, Probolinggo)  
        Indonesia
(3)  Sofiya Mauliza   (Universitas Nurul Jadid, Probolinggo)  
        Indonesia
(4)  Nadya Afkarina   (Universitas Nurul Jadid, Probolinggo)  
        Indonesia
(*) Corresponding Author

Abstract


Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena merosotnya motivasi belajar santri di lingkungan pondok pesantren terhadap pelajaran agama yang sejatinya merupkan identitas dari pesantren itu sendiri dengan lebih mengedepankan pelajaran-pelajaran yang bersifat umum. Kedudukan Madrasah Diniyah sebagai lembaga pendidikan yang mengakomodir pembelajaran keagamaan semakin terpinggirkan dengan hadirnya sekolah-sekolah formal di pondok pesantren. Sinergi antara madrasah diniyah dengan lembaga formal sering kali tidak seimbang sehingga banyak santri dengan pengetahuan keagamaan yang masih jauh dari yang diharapkan. Berangkat dari berbagai kekhawatiran akan tergerusnya pelajaran agama di pondok pesantren, pondok pesantren mengambil sikap tegas dengan mengintegrasikan kurikulum madrasah diniyah pada lembaga-lembaga formal sebagai antisipasi akan memudarnya motivasi santri terhadap pembelajaran agama. Tujuan penelitian ini adalah untuk menelaah kurikulum integrasi madrasah diniyah pada lembaga formal, menjelaskan model kurikulum integrasi madrasah diniyah dengan lembaga formal, dan mendeskripsikan kontribusi madrasah diniyah untuk melahirkan lulusan yang eksistensial terhadap pembelajaran agama pada lembaga formal. Penelitian ini juga ingin menegaskan peran madrasah diniyah sebagai identitas pendidikan keagamaan di lingkungan pondok pesantren. Jenis penelitian yang dilakukan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Adapun temuan dalam penelitian ini adalah: pertama, madrasah diniyah disatukan dengan lembaga formal dengan pembagian waktu dua hari untuk madrasah diniyah dan empat hari untuk lembaga formal. Kedua, ujian madrasah diniyah lebih dulu dilaksanakan sebelum ujian formal. Ketiga, santri yang tidak lulus ujian madrasah diniyah tidak diperkenankan mengikuti ujian lembaga formal sebelum melakukan remidi. Keempat, peningkatan mutu lulusan, santri terlebih dahulu menguasai Furudul Ainiyah sebelum mengikuti ujian madrasah diniyah.



Keywords

Kurikulum Integrasi; Madrasah Diniyah; Lembaga Formal; Mutu Lulusan; Nurul Jadid



Full Text: PDF



Article View

Abstract views : 552 times | PDF files viewed : 371 times

Dimensions, PlumX, and Google Scholar Metrics

10.33650/trilogi.v2i2.2291


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2021 Abdurrahman Abdurrahman, Ika Fitri Anwar, Sofiya Mauliza, Nadya Afkarina

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

This ejournal system and its contents are licensed under

a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License